Sindrom Pasca Aborsi, Apa sih Itu?

Kadang perempuan merasa ragu untuk mengakses aborsi aman dengan alasan takut mengalami sindrom pasca aborsi atau post-abortion syndrome. Padahal, sebenarnya secara klinis nggak ada lho yang namanya sindrom pasca aborsi. Nggak percaya? Nah kali ini kita khusus akan membahas tentang ‘sindrom pasca aborsi’ ini supaya kamu bisa lebih yakin untuk menentukan keputusan terkait kehamilan tidak direncanakan ya.

Sebenarnya, sindrom pasca aborsi secara klinis dikategorikan sebagai PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder. Apa lagi itu? Menurut ptsd.ne PTSD adalah sindrom yang menimpa seseorang setelah mengalami atau menyaksikan kejadian-kejadian yang mengancam nyawa. Mereka yang mengalami sindrom ini akan mengalami trauma bahkan perubahan biologis dan psikologis, terutama jika berkaitan dengan hal-hal yang dapat mengingatkan mereka akan kejadian traumatis tadi.

Lho, tapi tadi katanya sindrom pasca aborsi nggak ada? Betul, sindrom pasca aborsi yang disebabkan trauma terhadap prosedur aborsi aman sendiri sebetulnya tidak ada. Kebanyakan perempuan bisa mengalami trauma justru karena penyebab lain. Penyebab apa saja nih?

  1. Kurang pengetahuan tentang proses aborsi. Seringkali perempuan yakin kalau mereka masih akan melihat gumpalan darah saja. Padahal produk atau hasil konsepsi akan berbeda di setiap tahapan kehamilan. Pastikan kamu tahu persis apa saja yang kamu harapkan akan terjadi di usia kehamilanmu dari sumber-sumber yang terpercaya.
  2. Menjalani proses aborsi yang tidak aman. Proses aborsi yang tidak aman bukan saja berpotensi menjadi lahan penipuan bagi perempuan lho. Bisa juga proses yang dialami tidak sesuai dengan prosedur yang disarankan Badan Kesehatan Dunia atau WHO. Akibatnya bisa rasa sakit yang luar biasa, komplikasi, hingga kematian. Cari tahu prosedur aborsi sesuai standar WHO di sini dan pastikan kamu bebas dari kondisi-kondisi ini jika kamu mau menjalani aborsi dengan obat.
  3. Dipaksa menjalani aborsi. Dalam situasi panik dan tertekan, perempuan kadang sulit mengambil keputusan sendiri. Banyak juga lho pasangan maupun keluarga terdekat yang ngotot agar perempuan melakukan aborsi. Setelah aborsi barulah perempuan sadar bahwa ternyata ia ingin dan sebetulnya mampu untuk mengambil pilihan lain. Memaksa ini bukan hanya dengan kekerasan lho. Kadang mereka melakukan paksaan dengan cara yang lebih halus, misal berkata bahwa ia akan lebih menerima perempuan jika menjalani aborsi. Hasilnya perempuan jadi trauma setelah aborsi sementara relasi mereka mungkin akan berubah setelahnya.
  4. Perubahan relasi pasca-aborsi. Seringkali perempuan merasa diabaikan pasangan setelah proses aborsi selesai. Padahal, perubahan hormon pasca aborsi seringkali menyebabkan perempuan merasa tertekan, sedih dan sangat membutuhkan dukungan orang terdekat. Nah, perubahan relasi ini mungkin terjadi jika pasangan juga trauma karena mungkin berharap perempuan mempertahankan kehamilan, atau karena perempuan merasa dipaksa untuk melakukan aborsi.

Nah, sebetulnya supaya proses aborsimu tetap aman dan kamu juga yakin dengan keputusanmu coba saja kamu ngobrol dulu dengan teman-teman konselor sebelum aborsi. Aborsimu aman, risiko trauma pun berkurang karena kamu sudah tahu pasti apa yang akan terjadi sepanjang prosesnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *